![]() | ||
(Ilustrasi lampu Halogen dari google image) |
Haloo
semuanya. Postingan kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Kalau yang
sudah-sudah seringnya saya menulis soal tak jelas dan terkadang ngawur, maka
hari ini mungkin bisa lebih ngawur lagi. Hehe.. iyah, kali ini saya bicara soal
lampu sepeda motor. Tetapi, bukan saya sebagai yang pakar soal motor, karena
memang saya tak seberapa ngeh akan dunia seputar sepeda motor. Saya ngertinya
naikin-nya saja.
Apa yang saya bagikan disini ya cuma
sekadar pengalaman saya dengan motor saya. Sebenarnya dari dulu saya tak
terlalu minat ngomongin soal motor. Ya, karena tak seberapa ngeh tadi. Tapi
setelah saya renungkan, kok ya ternyata saya kalau kemana-mana ya naik motor.
Muter-muter kota pekanbaru naik motor. Pergi jalan-jalan, keluar masuk hutan
yang ada di provinsi Riau naik motor. Belum pernah tuh yang namanya motor
gantian naikin saya. Jangan deh.
Hanya menjemput pacar saja yang
belum pernah naik motor. Bukan karena pacarnya yang matre dan modis dan mbelis
sehingga tidak mau naik motor saya yang cuma sekelas bebek dan kadang lama
sekali tidak dicuci, tapi karena memang saya tidak pernah punya pacar yang bisa
saya jemput buat naik ke jok belakang motor saya. Eh, malah curhat.
Nah, dengan begitu kadang kalau saya
sedang keluar waktu malam minggu atau minggu sore atau hari apa saja, dan
melihat ada seorang lelaki sedang memboncengkan pacarnya, ingin rasanya saya
memotong separo jok motor saya. Lah, curhat lagi…. Sudah mbloo… sudaaahhhh….
(tolong beliin tisu)
Okelah, kembali ke judul. Ada yang
tidak tahu lampu halogen? Saya juga tak seberapa tahu dan saya sedang tak
seberapa baik untuk mencarikan defenisi lampu halogen untuk kemudian saya
tuliskan disini untuk Anda sekalian. Pelit amat kang? Biarin.
Ya sudah, saya sampaikan se-ngehnya
saya saja, dari berbagai sumber. Jenis-jenis lampu sepeda motor itu ternyata
berbeda-beda, mblo.. Pada dasarnya lampu
standar sepeda motor di dalamnya terdapat filamen tungsten (ora ngerti ya wis)
dibungkus dengan kaca berisi gas Nitrogen, Argon dan krypton. Lah terus lampu halogen piye? Ya mirip. Hanya
saja materialnya tentu berbeda mulai dari kaca tipis tahan panas hingga
penambahan gas halogen di dalamnya. Inilah kenapa disebut lampu halogen. Kalau
isinya gas diganti minyak tanah mungkin disebut lampu petromak.
“Lah terus yang kamu maksud dengan
judul di atas itu pakai kata-kata akibat itu piye kang? Apa katamu lampu
halogen itu jelek?”
Ya tidak juga. Lampu halogen justru
bisa lebih terang nyalanya ketimbang lampu standar bawaan motor. Tapi, ada
tapinya. Lampu halogen membutuhkan suhu yang lebih tinggi walau dengan watt
yang sama bagi lampu biasa untuk beroperasi dengan normal. Satuan panas bohlam
biasanya dinyatakan dengan Kelvin. Nah, ini dia masalahnya. Lampu halogen yang
panas seperti tempe goreng yang baru diangkat dari penggorengan itu bisa jadi
penyakit bagi motor yang memang tidak dari sononya dibekali dengan lampu
halogen.
Memang lebih terang, memang lebih
awet (kecuali bohlam halogen abal-abal, belum tentu awet), tapi efeknya bisa
merugikan. Cerita nih ceritaaa…
Dulu pernah saya pakai bohlam
halogen silverstar all season 35 watt merek Osr*m, lebih teraaang. Saya pun
gembira. (heleh) Sampai akhirnya setelah berbulan kemudian saya perhatikan
lama-lama kok terangnya jadi seperti bohlam biasa saja. Tapi saya tidak tahu
apa penyebabnya. Sekian lama saya pakai, dan akhirnya saya mengerti bahwa
ternyata reflektor alias sarang lampu saya yang tadinya kinclong mengkilap kini
mulai terlihat pudar dan terlihat sedikit gosong tepat di bagian atas lampu.
Akibatnya? Ya tentu pancaran lampu
ke depan jadi tidak fokus lagi. Jadi kesan saya soal lampu tadi yang terangnya
jadi biasa saja itu salah. Nyala lampunya tetap terang saja, hanya tidak bisa
disampaikan dengan baik oleh reflektor yang sudah kusam karena panas lampu.
Saya jadi bosan. (heleh, kamu itu
kalau menggambarkan emosi mbok ya yang sedikit pake niat ngapaa..) heleh
biarin. Akhirnya suatu ketika, sebelah lampu saya kadang nyala dan kadang mati.
Setelah saya coba bongkar ternyata itu lampu di bagian konektor timahnya
meleleh. Wah, baru ini saya mengalami beginian. Panasnya luar biasa pake
bingit.
Karena tak nyaman dengan keadaan
lampu motor sebelah yang kadang hidup kadang kedip-kedip kadang mati itu,
akhirnya saya ngacir ke bengkel kecil dengan niat membeli bohlam halogen dengan
merek yang sama (ceritanya belum kapok). Tapi ternyata sedang kosong. Saya lalu
ditawari bohlam yang mereknya sudah saya lupakan, warnanya biru..
“Ini saya jamin terang bang! Lebih terang
dari Os*am yang dulu abang beli.” Kata pelayan bengkel.
Akhirnya saya terpengaruh. Saya
tebus deh itu bohlam yang katanya terang. Setelah saya pasang dan jreengg… Wuih
terangnya memang maknyusss.. Saya gembira. (heleh, lagi..) Saya lalu
muter-muter malamnya. Memang mantap. Teraaang, lebih terang dari lampu kemarin.
Tapi.. walah ada tapinya lagi… tapi
sekira seminggu kemudian itu bohlam yang lupa saya apa mereknya, nyalanya jadi
jauh meredup. Saya lihat warnanya sudah berbeda, entah bagaimana pokoknya beda
lah. (hahah) di dalamnya terlihat sudah menumpuk kotoran akibat kondensasi
filament tungsten pada tabung kacanya, lah eddan. Cuma seminggu sudah keok. Tak
cuma itu, setelah saya perhatikan dengan jeli lagi ternyata reflektor jadi
semakin parah kondisinya, dudukannya meleleh hebat hingga lampu tidak bisa
dilepas lagi. Bisa kamu kira berapa ribu Kelvin panasnya itu bohlam? ya sudah
kalau tidak bisa mengira, lalu berapa ribu rupiah saya mesti beli reflektor
baru?
![]() |
Reflektor si jupi |
Saya jadi melongo. Sekarang saya
tidak cuma harus mengganti lampu. Tapi juga mesti mengganti reflektor yang harganya
tidak kurang dari seratus ribu. Gara-gara bohlam dua puluh lima ribu. Bohlam
itu saya biarkan menyala redup di batok lampu hingga akhirnya mati sendiri. Toh
sudah tidak bisa dicopot lagi. Mirip bintang katai yang kehabisan bahan bakar
fusinya. (heleh, bahasamu kang.. sok ngomong astronomi)
Demikianlah mblo.. Sampai akhirnya
saya nemu reflektor bekas di tempat loakan sparepart motor dan saya tebus
seharga 45.000 rupiah. Saya pun gembira. (hmm)
Demikianlah lagi, mblo.. Kalau kamu
perhatikan lagi, ternyata inilah mungkin jawaban kenapa pihak dealer
membatalkan garansi jika kita mengganti jenis lampu dengan yang tidak standar.
Bahkan hanya dengan melapisi batok lampu dengan stiker pun dapat membatalkan
garansi karena dapat menghalangi pelepasan panas bohlam. Lha iya, pabrikan
sudah menghitung berapa panas yang dapat diterima oleh perangkat pencahayaan
motor buatan mereka.
Nyatanya ya
memang demikian. Sudah entah berapa kali saya mendapati lampu sepeda motor yang
reflektornya meleleh atau minimal gosong di bagian atas lampunya. Ditambah lagi
dengan penerapan AHO yang menyala siang dan malam sampai kiamat, lengkap sudah
lah panasnya jika memaksa pakai halogen. Sekali lagi, tentu kecuali bagi motor
yang sudah dari pabrikan pakai halogen.
Monggo
mblo, biar aman mari kita kembali ke standar saja. Hehe..
Salam…
Puja K. Pekanbaru, 05 Desember 2015