![]() |
Batu Akik (Mirip permen ya?) |
Akhir-akhir ini, eh sudah lumayan lama
sebenarnya sedang booming yang
namanya batu akik. Saya tidak tahu apa definisi batu akik yang sebenarnya.
Barangkali kalau boleh saya menjelaskan seenak saya, ia adalah sejenis bebatuan
cantik yang memiliki nilai lebih ketimbang batu pada umumnya. Gampangnya kalau
Anda pernah melihat pelawak Tessy di
televisi, nah yang suka nangkring hampir pada setiap jari-jarinya itulah yang
dinamakan batu akik.
Saya
sendiri tidak tahu persis apa saja nama-nama setiap batu beserta keunikannya.
Saya bukan ahli geologi yang suka meneliti batu, walaupun untuk menjadi
pencinta batu akik orang juga tak perlu menunggu jadi ahli geologi. Batu akik
dengan berbagai jenis dan warnanya telah memikat banyak kalangan. Dimana-mana
ada orang dadakan membuka usaha jualan batu. Bahkan teman saya juga ikutan
jualan batu termasuk jasa menggosoknya di kost.
Kalau
dahulu sepi-sepi saja, terbatas orang tertentu saja dan kebanyakan orang yang
sudah bapak-bapak dan kakek-kakek serta dukun-dukun (maaf yah para mbah dukun) yang memang sudah dari dulu identik dengan batu akik, maka hari ini bocah
ABG pun sudah banyak yang pakai batu akik di jarinya. “Oh, ini hobi!” kata
mereka kalau saya tanya kenapa pakai batu akik. “Woo, ini fesyen terbaru mas..
kalau mas pakai ini pasti tambah keren.. ” kata yang lain lagi.
“Mas
nggak mau pakai? Coba aja dulu, pake aja dulu nggak apa.. Nanti siapa tahu
suka..” ujar teman yang tadi jualan batu menawari kepada saya. Wah, teman saya
ini pasti sedang menerapkan strategi marketing witing tresno jalaran soko kulino,-nya sama saya. Karena terbiasa
lama-lama juga cinta.
Kalau
saya perhatikan ya benar juga, lha orang saya lihat bapak-bapak lebih sering
mengelus-elus batunya ketimbang istrinya.. (Ehh, maaf lho ya bapak-bapak..).
Tapi saya bilang begini, yang lagi pacaran ya jangan terus jadi suka
ngelus-elus pacarnya lho ya.. Hormati juga perasaan saya yang jomblo, hehe
maksud saya bukan muhrim.
Untuk
para pendatang baru, boomingnya batu akik ini serupa kegemaran menjelajah hal
baru. Ada yang memang benar-benar jatuh cinta, ada juga yang cuma ikut-ikutan
tren. Kalau bertemu sesama pemakai cincin batu akik, mereka bisa mengobrol
tentang batu akik dengan kebanggaan tersendiri, dengan lebih panjang lebar lagi
ketimbang ahli geologi. Semua masalah seperti bisa terlupakan dengan obrolan
yang berbatu ini.
Bagi
yang memang sudah lama memakai dan mencintai batu akik, meledaknya batu akik di
masyarakat sekarang ini mungkin ibarat datangnya berkompi-kompi tentara bantuan
saat perang hampir kalah karena kurang jumlah. “Lho iya toh, apa yang saya
gemari akhirnya kalian juga tahu dimana indahnya..” begitu mungkin batin para
suhu batu akik. Akhirnya semakin hari
semakin bertambah saja semangatnya dalam menggosok dan mengelus-elus batunya.
“Kalau rajin digosok terus, kilapnya bisa sampai ke planet mars!”
Saya
enggan memakai batu akik bukan mutlak karena tidak suka. Saya yakin bahwa saya
juga bisa suka batu akik. Tapi.. nah ada tapinya. Saya sudah terlanjur takut
dibilang macam-macam sama orang. Padahal saya biasanya adalah pribadi yang
tidak ambil pusing, cuek dengan kata orang tentang apa yang saya suka. Polos
tapi pede setengah mati.. jiaah… Tapi
tidak dengan yang satu ini. Saya tidak mau disangka klenik!
Mungkin
harus kembali beberapa tahun silam, saya pernah sedikit belajar mengaji di
pesantren mungil di Jawa. Waktu itu saya sekolah di SMP dan tinggal di daerah
yang masyarakatnya sangat kental dengan yang berbau klenik. Anggapan
orang-orang di sana, kalau berguru di pesantren itu pasti orangnya hebat, dan
sering diasumsikan sebagai sakti yang paham segala hal tentang ilmu dalam dan
alam ghaib. Terbukti saya pernah diminta oleh teman saya sekolah di sana agar
membuat gadis yang ia taksir jadi tergila-gila dengannya lewat cara dipelet.
Hal serupa juga pernah saya alami sepulangnya saya dari Jawa. Seorang teman
minta supaya pacarnya dipeletkan karena berpaling dengan orang lain. Edan!
Memangnya saya ini dukun cilik apa?
Kembali
ke batu akik. Nah, di antara hebohnya batu akik tadi ternyata juga tetap ada
mengikut aroma klenik, walau tidak semuanya tapi tetap ada. Mudah saja saya temukan orang yang mengatakan bahwa batu
cincin yang ia pakai itu sudah diisi mantera-mantera sakti, bisa kebal senjata,
bisa menambah percaya diri, termasuk juga bisa buat me-melet wanita. Malah saya
ditanyai, “mas bisa ndak mendeteksi barang beginian, apa memang ada isinya apa
tidak?” Woh, tenanan..
Lha
kalau saya, orang Jawa, pernah ngalap ilmu sedikit di pesantren, rada pendiam,
rada seram (menurut beberapa orang), jomblo lagi.. Nah ketika saya pakai batu
akik kira-kira bagaimana tanggapan orang yang tidak benar-benar mengenal saya
secara dekat? “Wah, ini orang pakai batu akik, pernah berguru ke tanah Jawa
jauh sana, pendiam, jomblo lagi.. itu pasti jimatnya sakti. Itu pasti
dimandikan ritual setiap malam Jumat kliwon. Itu pasti buat pelet!”
Wah,
bubar sudah citra saya yang tidak seberapa tapi tetap manis ini. Maka setiap
ada yang bercanda menawari saya dengan anjuran, “Coba kamu pakai batu akik
begitu, keren nanti, mungkin kamu bisa
nggak jomblo lagi, kan tinggal kamu aja yang jomblo di antara teman-teman..”.
“Emoh.
Kampungan. Batu ya batu. Jomblo ya jomblo..” Jawab saya ngawur. Mosok perkara batu pakai dihubung-hubungkan
sama status jomblo saya. Sungguh tidak berperi-kejombloan. Kampungan.
Suatu
hari saya pulang kampung untuk suatu keperluan. Sudah agak lama tidak pulang,
rindu juga rasanya dengan keluarga. Ibu menyambut saya. Saya cium tangannya.
Saya datangi bapak yang sedang duduk di dipan belakang rumah. Saya lalu cium
tangannya. Dan, walah, tangan bapak sekarang juga pakai batu akik!? Batu itu ikut tercium juga. Kampungan.
Puja,
K. Pekanbaru, 5 Desember 2014.